Di Indonesia, malaria hingga kini masih merupakan Masalah kesehatan masyarakat. Angka kesakitan selama empat tahun terakhir (1998-2001) menunjukkan terjadinya peningkatan kasus di hampir seluruh propinsi di Indonesia. Di Pulau Jawa dari 0.31 penderita per 1000 penduduk (1998) menjadi 0.83 (2000) dan sedikit menurun pada tahun 2001 menjadi 0.62 penderita 1000 penduduk, demikian pula diluar Jawa Bali dari 21,97 (1998) menjadi 26.2 penderita per 1000 penduduk. Terjadinya peningkatan kasus malaria salah satunya diakibatkan masalah lingkungan yang memungkinkan meluas dan menyebrnya tempat perindukan (Depkes, 2001).
Beberapa faktor risiko terjadinya penularan malaria antara lain : tempat perindukan nyamuk, tempat istirahat nyamuk, tempat istirahat nyamuk, kondisi perumahan dan perilaku masyarakat (Hoedojo, 1998,; Misriyah, 2001).
B. Definisi Faktor Risiko Lingkungan dan Perilaku
- Lingkungan
1. Tempat perindukan Nyamuk
Faktor-faktor yang mempengaruhi tempat perindukan vektor malaria (Depkes, 1987)
- Salinitas (Kadar Garam)
- Pencahayaan
- Tumbuhan Air
- Predator
- Curah hujan
- Prositas Tanah
2. Tempat Istirahat
Kebiasaan hinggap/istirahat nyamuk mempunyai pengertian, yaitu (depkes,1999)
Hinggap/istirahat sementara yaitu pada waktu malam
Istirahat yang sebenarnya
Endofilik
Eksofilik
Menurut WHO (1975) nyamuk di dalam memilih tempat beristirahat sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor yaitu :
a. Suhu
b. Kelembaban
c. Sinar matahari
d. angin
e. predator
f. Tersedinya sumber makanan
g. kedekatan dengan tempat perindukan
- Perumahan
a. Kondisi fisik rumah
b.Jarak rumah dengan tempat perindukan
- Perilaku penduduk
C. Langkah-langkah Survelens
1. Pengumpulan data
2. Pengolaan data
3. Analisa data
4. Diseminasi informasih
D. Rencana Tindak Lanjut
1. Penyuluhan
2. Melakukan Model Intervensi dalam Pengendalian Vektor
3. Menggalang Kemitraan